Teori
pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan
pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori
ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat
diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu
strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di
dalam otak melalui beberapa alat indera.
Menurut
Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi;
(2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6)
generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.
Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi
penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu
informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu
untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam
kesadaran.
Interpretasi seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai
persepsi. Persepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus,
karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan,
motivasi, dan banyak faktor lain. Informasi yang dipersepsi seseorang dan
mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu
memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi
dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan
informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu
atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan
selama mengajar.
Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori
tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Memori jangka panjang menjadi
tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang
menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori semantik,
yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan
pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi
tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Komponen
pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah
registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar
informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak
lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang
disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan
hilang. Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam
pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila
informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa
semua informasi yuasi kualitas hasil usahanyaang dilihat dalam waktu singkat
masuk ke dalam kesadaran. yang mengganggu usahanya, serta mengevaluasi kualitas
hasil usahanya.
Model
pemrosesan informasi berasumsi bahwa anak-anak mempunyai kemampuan yang lebih
terbatas dan berbeda dibanding orang dewasa. Anak-anak tidak dapat menyerap
banyak informasi, kurang sistematis dalam hal informasi apa yang diserap, tidak
mempunyai banyak strategi untuk mengatasi masalah, tidak mempunyai banyak
pengetahuan mengenai dunia yang diperlukan untuk memahami masalah, dan kurang
mampu memonitor kerja proses kognitifnya. Mengingat perkembangan anak yang
optimal adalah tujuan para psikolog perkembangan, maka sangat relevan jika
individu-individu yang berkecimpung di bidang ini melakukan penelitian yang
tujuannya bermuara pada meningkatkan kemampuan pemrosesan informasi.
Model kedua yang dapat digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi adalah model tingkat pemrosesan (level of process-ing). Model tingkat pemrosesan yang dikembangkan oleh Craik dan Lockhart ini memiliki prinsip dasar bahwa informasi yang diterima diolah dengan tingkatan yang berbeda. Semakin dalam pengolahan yang dilakukan, semakin baik informasi tersebut diingat. Pada tingkat pengolahan pertama akan diperoleh persepsi, yang merupakan kesadaran seketika akan lingkungan. Pada tingkat pengolahan berikutnya akan diperoleh gambaran struktural dari informasi. Pada tingkat pengolahan terdalam akan diperoleh makna (meaning) dari informasi yang diterima.
Model kedua yang dapat digunakan untuk menjelaskan teori pemrosesan informasi adalah model tingkat pemrosesan (level of process-ing). Model tingkat pemrosesan yang dikembangkan oleh Craik dan Lockhart ini memiliki prinsip dasar bahwa informasi yang diterima diolah dengan tingkatan yang berbeda. Semakin dalam pengolahan yang dilakukan, semakin baik informasi tersebut diingat. Pada tingkat pengolahan pertama akan diperoleh persepsi, yang merupakan kesadaran seketika akan lingkungan. Pada tingkat pengolahan berikutnya akan diperoleh gambaran struktural dari informasi. Pada tingkat pengolahan terdalam akan diperoleh makna (meaning) dari informasi yang diterima.
Menurut
model tingkat pemrosesan, berbagai stimulus informasi diproses dalam berbagai
tingkat kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam
suatu informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat.
Sebagai contoh, informasi yang mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak
berasosiasi dengan pengetahuan yang telah ada akan diproses secara lebih dalam.
Demikian juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses daripada
stimuli atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan
lebih mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yang
menjadi perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam
daripada stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya.
Permasalahan
:
1.
Apa yang menyebabkan seseorang terhambat dalam memproses
informasi?
2.
Jelaskan perbedaan fase motivasi, pemahaman menurut pandangan
saudara?
3.
Bagaimana tanggapan anda mengenai kemampuan anak yang berbeda
beda dalam menyerap informasi?
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusbaiklah saya akan menjawab pertanyaan no 1
BalasHapusHambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
1. Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2. Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3. Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan dalam ingatan.
4. Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
Saya akan menjawab permasalahan yang ketiga
BalasHapusAnak memiliki kemampuan berbeda dalam menyerap informasi (dalam hal ini adalah materi pelajaran). Hampir sebagian siswa menguasai semua hal yang mereka baca atau lihat. Sementara sebagian cukup degan mendengar saja, dan sisanya harus mengalami, kemudian menuliskan atau menggambarkan materi yang dihadapi untuk kemudian barulah mereka dapat menyerap) materi tersebut. Kemampuan inilah yang kemudian mempengaruhi gaya belajar anak.
Gaya belajar siswa merupakan kunci untuk mengembangkan kinerja dalam belajar. Setiap siswa tentu memiliki gaya belajar yang berbeda. Mengetahui gaya belajar siswa yang berbeda ini dapat membantu para guru dalam menyampaikan bahan pembelajaran kepada semua siswa shingga hasil belajar akan lebih efektif.
Jawaban permasalahan no. 2 :
BalasHapusa. Fase Motivasi
· Timbulnya motivasi (dorongan belajar) dalam diri mahasiswa.
Dua jenis motivasi :
(1). Motivasi Intrinsik
Dorongan yang timbul dalam diri siswa, karena stimulus (rangsangan) dari dalam dirinya sendiri. Stimulus itu antara lain minat, bakat, cita-cita, kepuasan melakukan sesuatu dengan berhasil.
2). Motivasi Ekstrinsik
Dorongan yang timbuk dalam diri mahasiswa, karena stimulus dari luar, seperti penghargaan atas kinerja, pujian, atau upah yang diberikan pihak lain.
Kedua motivasi itu sangat penting dalam belajar, Apabila motivasi sudah timbul dalam diri mahasiswa, proses keinginan (untuk belajar) sudah terjadi.
Sedangkan pada pemahaman, misalnya pada siswa, kemampuan memahami arti suatu bahan pelajaran, seperti menafsirkan , menjelaskan atau meringkas aatau merangkum suatu pengertian kemampuan macam ini lebih tinggi dari pada pengetahuan. Pemahaman juga merupakan tingkat berikutnya dari tujuan ranah kognitif berupa kemampuan memahami atau mengerti tentang isi pelajaran yang dipelajari tanpa perlu mempertimbangkan atau memperhubungkannya dengan isi pelajaran lainnya.